Kita harus berhenti menjadi manusiawi, dan mulai menjadi Ilahi. Menjadi manusiawi sering membuat kita mentoleransi hal-hal yang jelas tidak sejalan dengan standar kebenaran Allah. Dengan dalih demi kemanusiaan, demi kebersamaan, demi sesama, hak asasi manusia, atau hukum-hukum dunia, kemanusiawian mengorbankan batas-batas Firman yang sesungguhnya. Sementara menjadi Ilahi menempatkan kemanusiawian kita di bawah otoritas Allah. Kebenaran tetap menjadi yang terutama, dosa tetap tak ditoleransi.

Dunia dengan kemanusiaannya sudah semakin tersesat dalam kebohongan-kebohongan yang dikemas dalam nilai kebaikan. Situasinya bukan lagi keberadaan garis tipis antara kebenaran dan dosa. Bukan hanya kompromi pemikiran-pemikiran. Tapi bahkan dunia -dan penguasa-penguasanya- telah mampu menukar tempat antara dosa dan kebenaran. Dosa dibela dengan undang-undang dan hukum negara, kebenaran dipenjarakan. Dosa semena-mena, kebenaran dikudeta.

Kasih karunia Allah dibuat jadi permainan. Pengertiannya dicuri setan sehingga jadi ringan dan seolah tak berarti banyak. Padahal Putra Allah mati untuk mendapatkannya. Bangkit untuk memeteraikannya bagi kita. Lalu naik ke Surga untuk memastikan kasih karunia itu tetap tercurah bagi kita hingga kekekalan. Tapi dunia membuat kasih karunia itu seolah-olah murah dan mudah. Dunia membuat kasih karunia seolah berseteru dengan kebenaran dan berpihak pada kemanusiawian. Salah besar! Kasih karunia dan kebenaran adalah kesatuan yang tak terpisahkan. Tak ada cinta segitiga antara kasih karunia, kebenaran dan dosa! Dosa tak punya tempat dalam kasih karunia, dan tak akan pernah.

Kasih karunia Allah menjunjung tinggi kebenaran. Itu sebabnya Juruselamat harus mati. Karena kebenaran harus ditegakkan, dosa harus ditebus dengan curahan darah yang suci. Sebab upah dosa adalah maut. Jadi seseorang harus menempuh maut untuk menaklukkan dosa, lalu merebut kembali hidup. Yesus telah melakukannya 2016 tahun silam. Ia dibunuh dengan kejam agar kita hidup. Pengorbanan yang Ia lakukan demi kebenaran, dibalas kebangkitan oleh Bapa. Itulah kelana kasih karunia. Sebuah perjalanan iman untuk menegakkan kebenaran. Bukan semacam tindakan kemanusiaan untuk membela kemaksiatan manusia. Yang itu jelas-jelas bukan kasih karunia!

Jadi satu yang harus diingat oleh manusia, dalam agama apapun, dalam kepercayaan apapun. Kasih karunia Allah tak akan pernah mengijinkan dosa dengan dalih kemanusiawian. Dan semoga mata kita mulai tertuju pada standar yang lebih tinggi dari kemanusiawian. Standar yang tertinggi. KEILAHIAN.

Author: Sarah A. Christie

Leave a Reply