Kalau ada satu Pribadi yang membuat aku kehabisan kata-kata, walau aku adalah seniman kata, Dialah Yesus.

Aku masih ingat beberapa tahun lalu, waktu aku berada di titik-titik terbawah dalam hidupku, Tuhan meyakinkan aku lewat sebuah doa yang dilontarkan oleh seorang hambaNya kepadaku. Ia menjawab pertanyaan yang bersembunyi di balik semua benteng kepercayaan diri yang berusaha kubangun. Di tengah keterpurukan jiwa, Tuhan menjawabku. “Sarah adalah orang yang dicintai, orang yang dikasihi”, demikian doa itu diucapkan, sebuah nubuat kalau orang bilang, dan sebuah jawaban kalau kubilang, sebab Tuhan membaca hati yang terseok-seok ini, menderita oleh perjuangan seorang diri dalam kehidupan.

Sejak mama meninggal, kontan perjuangan hidup harus kutempuh sendirian. Dan aku mulai tidak yakin apakah Yesus mengasihi aku. Dan bahkan aku pun tidak yakin bahwa manusia mencintai aku. Tapi Yesus meyakinkan aku. Kata-kataNya masih kuingat. “Sarah adalah orang yang dicintai”. Sebuah pernyataan yang spesifik. Bahan bakar iman.

Lalu proses hidupku berlanjut. Bertahun-tahun kulewati, beberapa penolakan kuterima. Beberapa gesekan terjadi. Beberapa konflik harus dihadapi. Beberapa doa yang kunaikkan dengan tangisan yang mengerang.

Lalu tiba-tiba. Mungkin bukan tiba-tiba. Tapi terasa seperti tiba-tiba. Tiba-tiba, terjadi gebrakan demi gebrakan. Terobosan. Pembelaan. Tiba-tiba, aku melihat pintu-pintu terbuka, sebenarnya bukan hanya pintu. Tapi orang-orang. Orang-orang datang. Mereka datang kepadaku mempercayakan proyek demi proyek kepadaku, pekerjaan-pekerjaan besar. Mereka tahu siapa aku. Seorang desainer dan penulis lepas. Aku bukan pemilik perusahaan desain. Aku adalah seorang desainer dan penulis lepas. Aku bukan pebisnis. Aku seniman yang suka berbicara. Tapi entah mengapa mereka mempercayai aku. Mereka suka kepadaku. Tanpa aku tahu bagian apa dari diriku yang mereka sukai. Mereka kadang mengkritik aku. Tapi mereka terus mempekerjakan aku. Mereka mengasihi aku. Meski aku bukan tanpa salah. Meski aku tak sempurna.

Aku terus teringat kehidupan Yusuf. Tuhan membuat Potifar mengasihinya. Kepala penjara mengasihinya. Firaun apa lagi.

Inilah yang namanya kasih karunia. Sebenarnya kalau orang benar-benar berjumpa dengan kasih karunia, bohong kalau mereka dapat mendeskripsikannya. Ini benar-benar tak terdeskripsi! Apa yang mau kamu deskripsikan? Bahwa kamu layak mendapatkan semua yang kamu terima? Bahwa kasih karunia ini kau dapatkan karena berbuat sesuatu yang baik? Reward yang kamu terima karena kerja keras? Sama sekali tidak! Kasih karunia Allah melampaui segala pemahaman. Lebih tidak masuk akal lagi karena dilimpahkan pada orang-orang yang tidak layak menerimanya. Siapakah Sarah, yang seorang penulis lepas ini. Siapakah dia yang seorang kecil di hadapanNya. Sebutir pasir tak bermakna. Tapi Ia berikan makna. Dan Dia berikan cinta, lewat orang-orang yang datang. Dia membuktikan kata-kataNya sendiri.

“Sarah adalah orang yang dicintai”.

Dia akan membuktikannya kepadamu juga. Bahwa Ia mengasihimu lebih dari segala batas akal manusiawi. Dia sudah memberikan Yesus. Apakah ada yang lebih tak masuk akal dari itu? Apakah ada yang lebih indah dari cinta yang sedemikian itu? Apakah ada keputusan yang lebih berani dari itu? Setidaknya sepanjang pengetahuanku belum ada yang mengarungi jarak sejauh Yesus, dari Surga yang paling tinggi ke bumi yang paling bawah, demi menyelamatkan kau dan aku. Agar kita tahu bahwa kita dicintai.

Yakinkan dirimu. Jesus loves you.

Author: Sarah A. Christie

Leave a Reply