Tuhan Tidak Suka Hukum Ekonomi

Categories: Blog,Christian Life,Devotion

Tidak, Tuhan tidak memihak jurusan atau profesi tertentu dalam kehidupan. Pengusaha dan dokter tetap punya tempat yang sama di hatiNya. Tapi saya memang baru tahu, Tuhan tidak suka pada hukum ekonomi yang berbunyi 5 W + 1 H.

Kalau Anda pernah belajar di bidang ekonomi, terutama marketing, pasti tahu tentang prinsip ini. Untuk memproduksi dan memasarkan sebuah produk kita harus mengetahui What (apa), Who (siapa targetnya), When (kapan), Why (mengapa), Where (di mana), dan How (bagaimana).

Tapi itu pertanyaan yang terlalu banyak untuk Tuhan. Bukan berarti Ia tak mampu menjawab. Saya yakin mudah bagiNya untuk memberitahu semua yang Anda ingin tahu tentang hidup Anda. Dengan siapa Anda akan menikah, berapa lama Anda akan hidup, berapa banyak anak yang akan Anda miliki, usaha atau pelayanan apa yang akan Anda kerjakan. Tetapi apa benar Anda ingin tahu semuanya sebelum semuanya terjadi? Saya rasa, Ia memang bukan Pribadi yang terlalu transparan tentang apa yang Ia lakukan, seringkali karena demi kebaikan kita. Terlalu banyak tahu membuat kita jadi sok tahu. Lalu mengambil keputusan-keputusan sendiri yang malah beresiko mengacaukan situasi. Saya juga percaya bahwa terlalu banyak tahu membuat kita menjadi semakin ekstra khawatir. Bayangkan jika Allah memberitahu bahwa Anda akan memiliki lebih dari 5 anak. Anda pasti kebingungan mencari uang lebih daripada mencari Tuhan.

Kita harus jujur, tidak banyak tahu itu bagus. Tidak banyak tahu itu membuat kita bergantung kepada Allah Yang Maha Tahu. Dia adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Dia ada di garis start dan Dia berdiri di garis finish. Sejak sebelum pertandingan dimulai hingga pertandingan selesai, Allah sudah tahu hasilnya. Allah tidak menebak-nebak kehidupan kita seperti sedang mengikuti bursa taruhan. Allah yang menentukan kehidupan kita. Ia yang menulis skenario, menjadi sutradara, dan juga produsernya. Kita para pemeran cuma perlu ikut arahan. Tapi ya apa daya, sebagai pemain amatir dalam film kehidupan, kita memang suka bertanya. Bertanya itu bagus, malah harus, daripada sesat di jalan. Tapi manusia harus terima, kalau dari 100 pertanyaan, Tuhan jawab satu yang perlu. Dan tak perlu protes kalau 99 pertanyaan yang lain dibalas dengan keheningan. Berarti memang cuma satu yang kita perlu tahu.

Beberapa waktu lalu saya harus menghadapi sebuah masalah pelik dalam kehidupan saya. Ayah saya tiba-tiba harus dirawat di rumah sakit dan mengalami operasi darurat untuk karena selaput paru-parunya sobek. Namun setelah operasi, keadaannya tidak kunjung membaik, malah sempat harus dirawat secara intensif. Hari demi hari pun saya mulai dihantui oleh berbagai pertanyaan itu. Kapan masalah ini akan selesai, siapa yang harus saya hubungi untuk menolong saya, ke mana saya harus pergi, bagaimana menyelesaikan semuanya. Pada saat tersebut, rasanya kemampuan saya bertanya meningkat drastis. Saya melebihi seorang wartawan peliput berita. Namun semakin saya berdoa menanyakan hal-hal ini kepada Tuhan, semakin Allah membisu dan tidak menjawab satu pun dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sebaliknya, Allah hanya menuntut saya untuk percaya dan berserah, karena Ia memegang kendali dalam semua yang tengah saya alami. Ia tak menjawab satu pun pertanyaan saya yang bertubi-tubi. Ruangan hati saya terasa begitu sunyi karena tak ada suara konfirmasi Allah tentang problem yang saya hadapi. Tetapi saya bertahan dengan metode saya untuk terus menuntut jawaban, sementara Allah teguh dengan pendiriannya untuk tidak menjawab sampai saya benar-benar percaya kepadaNya. Hingga suatu saat beberapa minggu kemudian, saya menyerah. Saya menyerah karena tampaknya cara berpikir saya tidak membawa penyelesaian. Saya menyerah dengan usaha saya untuk terus bertanya. Sebab setelah sekian lama tidak memperoleh jawaban, saya baru sadar bahwa sepertinya kali ini Tuhan tidak ingin bertanya jawab. Kadang-kadang yang Tuhan inginkan hanyalah tangan yang berpegang erat pada pundakNya dan membiarkan Dia menggendong kita melalui masalah demi masalah tanpa meragukan kemampuanNya untuk melindungi kita.

Maka pada suatu hari setelah 3 minggu ayah saya dirawat di rumah sakit dan melalui berbagai metode medis, saya mengangkat tangan dan menyerahkan semuanya pada Allah yang besar. Anda tahu? Tidak sampai beberapa jam setelah saya menyatakan penyerahan diri saya dalam doa, jawaban Tuhan datang secepat kilat. Papa saya pulih dalam 3 hari, tanpa saya mengerti bagaimana Tuhan melakukannya. Lebih daripada itu, semua biaya medis Tuhan sediakan lewat cara-caraNya yang ajaib dan tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Allah melakukannya lagi. Dia menyelesaikan permasalahan dengan tepat waktu, detil, dan cepat. Dia membuktikan kepada saya bahwa Ia tak pernah terlambat, dan tak pernah ingkar janji. Sekali Ia berkata bahwa Ia tak akan meninggalkan kita dan tak akan melupakan kita, maka sampai kapan pun Dia akan menjaga kita (Ibrani 13:5). Asal kita berserah, tidak terlalu banyak bertanya, tapi hanya mengangkat tangan, mengakui kebesaran Allah, dan tak henti-hentinya mempercayai dan berharap kepadaNya dalam doa, pertolongan Allah pun datang tepat pada waktunya.

Jadi mulai dari sekarang, belajarlah bersama saya untuk mempercayai Allah secara total, jangan mengandalkan kekuatan dan pemikiran Anda sendiri, dan jangan terlalu banyak bertanya. Ikuti saja proses Allah dengan satu keyakinan: Ia Allah yang setia.

Author: Sarah A. Christie

Leave a Reply