I Shall Not Want

Categories: Blog,Christian Life,God,Jesus Christ,Kehidupan Rohani

Aku sedang menempuh perjalanan pulang sambil mendengarkan khotbah pastor John Piper, seorang pendeta dari AS dan penulis buku Risk is Right, waktu Tuhan membukakan sesuatu kepadaku.

Sebenarnya beberapa jam sebelumnya, setan sedang menggangguku lewat hal yang paling mudah ditemukan dalam kehidupan. Fakta. Fakta adalah pembunuh iman terbaik yang pernah ada di dunia ini. Tidak butuh pistol kaliber. Tidak butuh racun tikus. Ketahui saja sebanyak-banyaknya fakta di sekitar Anda. Niscaya iman akan menemui ajalnya dengan segera.

Aku melihat banyak fakta di Facebook hari ini. Ah, itu sebabnya aku tidak suka bergulir terlalu sering di laman Facebook. Tapi memang tak biasanya aku punya cukup waktu untuk melihat news feed orang-orang. Dan anehnya, aku hampir tak pernah membuka bagian news feed. Namun hari ini, bagian itu terbuka begitu saja (dan terasa sangat memenuhi layar!), seolah memohonku untuk menengoknya. Tak sengaja aku pun melihat begitu banyak perkembangan dan terobosan dalam kehidupan orang lain, bahkan mereka yang tidak hidup di dalam Tuhan. Lalu setan memainkan fakta-fakta itu dalam sebuah perbandingan besar dengan kehidupanku yang berada dalam masa penantian. Aku mulai merasa seperti sedang berjalan di atas treadmill, sementara semua orang lain berlari menuju tujuan mereka dan bahagia. Aku diam di tempat, mereka berlari pada tujuan. Aku menanti, mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Aku… mereka… aku… mereka…

Imanku pun mulai bertarung dengan fakta. Skor awal, fakta menang. Imanku babak belur saat kembali ke ujung ring. Terengah-engah oleh fakta yang bertubi-tubi. Tapi aku punya seorang Pelatih yang hebat. Ia tahu kapan aku menbutuhkan sebuah tepukan di punggung dan siraman air yang menyegarkan jiwaku. Ia tahu pasti, aku harus kembali kepada Firman.

Mengapa Firman? Sebab Firman adalah kebenaran yang absolut, yang kekal, yang tidak berubah, yang sejak keluar dari mulut Allah, tidak pernah kembali dengan sia-sia (Yesaya 55:11). Jadi apa yang dikatakan Firman itu tetap untuk selamanya. Firman adalah vaksin yang paling manjur untuk fakta. Anda kehilangan kepercayaan diri? Kehilangan harapan? Fakta membuat Anda ragu akan masa depan? Kembali kepada Firman. Kepastian yang terkandung dalam janji Allah akan membangkitkan kembali iman Anda yang terpuruk.

Dan karena Firman adalah Yesus sendiri, Allah yang hidup. Ke manakah kita menggantungkan segala kekhawatiran kita akan masa depan, jika tidak kepada Tuhan yang telah mati untuk kita -dan kini hidup dalam kekekalan sorgawi- yang telah menebus ‘masa depan’ itu bagi kita, dengan darah yang bukan mahal, aku tidak suka ketika darah Yesus dibilang mahal. Kalau mahal berarti masih ada orang yang bisa membelinya. Tapi darah ini tidak ternilai! Tidak terbeli oleh satu manusia pun di bumi. Namun dicucurkanNya dengan rela di kayu salib sampai mati, agar kita hidup, dan hidup berkelimpahan (Yohanes 10:10). Darah ini sudah mengembalikan semuanya. Termasuk kehidupan dan masa depan kita.

Firman Allah akan mengingatkan kita, betapa Allah telah melakukannya jauh lebih dari yang dapat kita bayangkan. Dia telah melebihi ekspektasi kita tentang penyelamatan. Sekarang pertanyaannya sederhana, kalau Ia merelakan anakNya yang tunggal untuk mati dengan cara yang dinobatkan sebagai cara mati paling buruk dalam sejarah manusia, agar kita dapat hidup, apa mungkin itu hanya untuk hidup yang biasa-biasa, atau malah, tanpa masa depan? Tidak mungkin! Kalau Anda seorang ayah atau ibu, Anda pasti memahaminya. Anda tidak akan merelakan anak Anda pergi melakukan suatu pengorbanan yang besar, jika tak ada tujuan yang agung pula di baliknya. Itu akan benar-benar menjadi pengorbanan yang sia-sia.

Jadi malam itu, menyadari betapa dahsyatnya Firman, aku kembali merenungkannya, lewat khotbah audio dari Pastor John Piper. Ia sedang membahas tentang Mazmur 23. Ah, Mazmur yang sederhana pikirku. Aku sudah tahu semuanya tentang Mazmur ini. Tapi tiba-tiba Tuhan mengingatkan aku satu bagian ayat yang dalam bahasa Indonesia berbunyi “Aku tidak akan kekurangan”. Nah kita pasti sudah sangat familiar dengan frasa tersebut. Justru frasa itulah yang membuat ayat ini menjadi sangat terkenal. Karena kita, dan semua pendahulu kita berpikir bahwa ayat ini berbicara tentang pemenuhan kebutuhan material. Tidak salah memang. Karena toh ayatnya berbunyi demikian. “Aku tidak akan kekurangan”. Tapi membaca ayat-ayat ini dan berhenti pada kesimpulan bahwa Allah pasti akan memenuhi kebutuhan kita, terlihat sangat terlalu sederhana bukan? Sebab ternyata Daud berbicara lebih dari sekadar kebutuhan material. Anda perlu tahu, Daud adalah seorang raja pada saat itu, dia hidup sangat berlimpah dengan materi. Ia makan saat ia ingin makan, Ia dapat membeli barang-barang hanya karena ia merasa bosan. Jadi kita dapat yakin. Bahwa ia tidak sedang membicarakan tentang Allah yang akan memenuhi kebutuhannya akan makanan atau pakaian. Ini sama sekali tentang sesuatu yang lain.

Untuk mengerti frasa ini, kita harus melihat terjemahan bahasa Inggris dari frasa “Aku tidak akan kekurangan”. Dalam bahasa Inggris, seluruh ayat ini berbunyi, “The Lord is my Shepherd, I shall not want.” (Mazmur 23:1)

“I shall not want.”

Jadi seharusnya kita menerjemahkan ayat itu ke dalam bahasa Indonesia, bukan “Aku tidak akan kekurangan”, tapi “Aku tidak akan menginginkan”.

Aku tidak akan menginginkan. Wow. Sebuah pewahyuan yang membebaskan aku dengan segera dari cengkeraman hukum-hukum perbandingan.

Oke Anda bertanya, aku tidak menginginkan apa?

Kembali ke frasa sebelumnya, “The Lord is my Shepherd…”

Jadi aku coba menerjemahkan ayat ini dengan bahasa yang mudah kita pahami, “Karena Tuhan adalah Gembalaku, aku tidak akan menginginkan.”

Mari sejenak kita masuk ke dalam pikiran seekor domba. Domba berpikir sederhana: aku tidak akan menginginkan apapun yang tidak diinginkan gembalaku. Kalau gembalaku pergi ke kiri, aku tak ingin pergi ke kanan. Aku lebih ingin pergi ke kiri, karena gembalaku ada di sana. Kalau gembalaku diam, aku juga ingin diam. Kalau gembalaku berjalan, aku juga akan berjalan.

Sama dengan jika kita benar-benar hidup dalam hubungan yang intim dengan Kristus Sang Gembala kita. Kita tak akan menginginkan? Menginginkan apa? Kita tak akan menginginkan apa yang tak Ia inginkan. Kita tak akan mau pergi ke tempat yang Ia tak mau kita di sana. Kita tak akan menginginkan pernikahan, kalau pernikahan itu tanpa Kristus. Kita tak akan menginginkan kesuksesan, jika kesuksesan itu menjauhkan kita dari Kristus. Kita tak akan menginginkan uang, karena uang tak mungkin berada di satu ruangan yang sama dengan Yesus. Jangan salah paham dengan saya. Tidak masalah jika Anda membutuhkan uang. Kita semua membutuhkan uang. Tapi jika kita menginginkan uang, dan lebih buruk lagi, menginginkannya lebih dari memiliki hubungan yang indah dengan Kristus, kita punya masalah besar!

Jadi, I shall not want, aku tidak akan menginginkan. Karena aku sudah memiliki Kristus, aku tidak akan menginginkan segala yang lain, yang bukan kehendak Kristus. Anda boleh membuka Facebook dan melihat begitu banyak fakta, tentang kesuksesan orang lain, kebahagiaan orang lain, kebesaran orang lain, tapi jika Kristus tidak menginginkannya untuk Anda, Anda tidak akan menginginkan. Sesederhana itu. Bangunlah hubungan yang pribadi dengan Allah. Maka Anda hanya akan menginginkan apa yang Ia inginkan. Daging boleh menginginkan banyak hal, karena daging lemah. Tapi jika roh Anda yang terhubung langsung dengan Bapa itu kuat, Anda akan dengan mudah menganggap segala keinginan daging itu sia-sia.

Selamat membangun hubungan yang lebih intim lagi dengan Sang Gembala, dan mulailah menginginkan apa yang Ia inginkan untuk Anda.

Author: Sarah A. Christie

Leave a Reply